Cahaya di balik Jendela Tua
Di sebuah gang sempit, hiduplah Pak Bakri, seorang kakek tua yang penglihatannya mulai memudar karena katarak. Setiap sore, ia duduk di teras rumahnya yang kecil, menyeduh teh hangat, dan menyiapkan dua cangkir. Padahal, ia tinggal sendirian. Istrinya, Ibu Aminah, telah berpulang lima tahun yang lalu. Namun, Pak Bakri tetap menjalankan rutinitas yang sama, meletakkan satu cangkir teh di kursi kosong di hadapannya dan membacakan koran dengan suara keras, seolah-olah istrinya masih duduk di sana mendengarkan.
Suatu hari, seorang anak laki-laki tetangganya bernama Gilang bertanya, "Kek, kenapa kakek selalu bicara sendiri? Nek Aminah kan sudah tidak ada." Pak Bakri tersenyum tipis, tangannya yang gemetar mengelus pinggiran cangkir yang masih mengepul. "Gilang, cinta itu seperti lagu. Meski penyanyinya sudah berhenti bernyanyi, melodinya masih terngiang di telinga kakek. Kakek tidak bicara sendiri, kakek sedang merawat ingatan."
Minggu berganti bulan, penglihatan Pak Bakri benar-benar hilang. Ia tidak bisa lagi membaca koran. Ia hanya duduk diam, memegang cangkir tehnya yang mulai dingin. Tetangga sekitar mulai merasa kasihan melihat Pak Bakri yang tampak kehilangan arah.
Namun, pada suatu sore, Gilang datang membawa sebuah buku. Tanpa diminta, anak itu duduk di kursi kosong milik Ibu Aminah. "Kek," kata Gilang pelan. "Hari ini giliranku yang membacakan cerita untuk Kakek. Nek Aminah pasti senang kalau Kakek tetap tahu berita hari ini." Air mata jatuh dari mata Pak Bakri yang terpejam. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa kursinya tidak lagi kosong. Ia menyadari bahwa cinta yang ia berikan kepada mendiang istrinya ternyata tumbuh kembali dalam bentuk kepedulian dari orang lain.
Pesan dari cerita ini adalah Kebaikan dan kesetiaan yang kita tanam tidak akan pernah sia-sia; ia akan kembali kepada kita di saat kita paling membutuhkannya, bahkan dari arah yang tidak terduga.
Komentar
Posting Komentar