Di sebuah gang sempit, hiduplah Pak Bakri, seorang kakek tua yang penglihatannya mulai memudar karena katarak. Setiap sore, ia duduk di teras rumahnya yang kecil, menyeduh teh hangat, dan menyiapkan dua cangkir. Padahal, ia tinggal sendirian. Istrinya, Ibu Aminah, telah berpulang lima tahun yang lalu. Namun, Pak Bakri tetap menjalankan rutinitas yang sama, meletakkan satu cangkir teh di kursi kosong di hadapannya dan membacakan koran dengan suara keras, seolah-olah istrinya masih duduk di sana mendengarkan. Suatu hari, seorang anak laki-laki tetangganya bernama Gilang bertanya, "Kek, kenapa kakek selalu bicara sendiri? Nek Aminah kan sudah tidak ada." Pak Bakri tersenyum tipis, tangannya yang gemetar mengelus pinggiran cangkir yang masih mengepul. "Gilang, cinta itu seperti lagu. Meski penyanyinya sudah berhenti bernyanyi, melodinya masih terngiang di telinga kakek. Kakek tidak bicara sendiri, kakek sedang merawat ingatan." Minggu berganti bulan, penglihatan Pak Bak...
Komentar
Posting Komentar